Wednesday, January 5, 2011
Sebuah Epilog Cinta
apa yang tersembunyi di sudut hati?
Derita di mata, derita dalam jiwa
kenapa tak engkau pedulikan?
Sepasang kepodang terbang melambung
Menukik bawa seberkas pelangi
Gelora cinta, gelora dalam dada
kenapa tak pernah engkau hiraukan?
Selama musim belum bergulir
Masih ada waktu saling membuka diri
sejauh batas pengertian
Pintu pun tersibak, cinta mengalir sebening embun
Kasih pun mulai deras mengalir
cemerlang sebening embun
Pernahkah engkau coba membaca
sorot mata dalam menyimpan rindu?
Sejuta impian, sejuta harapan
kenapakah mesti engkau abaikan?
Selama musim belum bergulir
Masih ada waktu saling membuka diri
sejauh batas pengertian
Pintu pun tersibak, cinta mengalir sebening embun
Lagu ini selalu membantuku ketika hatiku begitu resah. Dengan lagu ini juga akhirnya aku bisa menuangkan sebuah peristiwa yang cukup penting dan membawaku ke tahapan kedewasaan sebagai seorang perempuan...
Tahun baru yang cukup melelahkan bagiku. Ketika orang kebanyakan merayakan Tahun baru dengan keriaan hingga pagi menjelang, aku hanya ditemani yang tercinta. Datang menjelang tengah malam dengan kepenatan karena harus bekerja lembur, kita nikmati waktu bersama menjelang pergantian akhir tahun. Rencana liburan yang sudah digagas jauh-jauh hari terpaksa pupus karena kondisi tidak memungkinkan. Tapi, bagiku tidak masalah, kami sama-sama tidak terlalu suka keramaian. Kami hanya ingin menikmati waktu tenang bersama. Setelah peristiwa demi peristiwa yang menyebabkan kita tidak lagi memiliki waktu untuk saling sekedar bercerita.
Ada hal yang cukup mengejutkan dan menyakitkan bagiku di awal tahun ini. Yang kudapati melalui sebuah ketidaksengajaan yang didorong oleh reaksi impulsif dari naluri seorang perempuan. Maka liburan berdua yang sangat kunantikan itu berjalan tidak seperti yg kubayangkan. Liburan diisi dengan pembicaraan masalah yang cukup mengejutkan dan menyakitkan itu.
Pada akhirnya aku harus memilih sebuah keputusan yang cukup berat bagiku. Menyudahi atau menyelamatkan sebuah hubungan yang sudah dengan susah payah kami bangun. Banyak sudah yang terlewati baik kesenangan maupun kesusahan. Ketika kami akan mengambil keputusan terbesar dalam hidup kami, badai itu kembali datang. Apakah karena dia selalu berada diantara ombak, jadinya badai itu sangat suka datang?
Tidak mudah bagiku untuk bisa menyingkirkan hal yang begitu prinsip kupegang dan kembali menerimanya. Kejujuran dan loyalitas adalah harga mati bagiku. Apa yang terjadi ketika keduanya dilanggar? Perang dalam batin terus berkecamuk ditambah dengan prasangka, tanya, sakit hati, ego. Rasanya memang tidak dapat terbayangkan, tapi kuselami semuanya sebagai bagian dari ujian yang akan menjadikanku pribadi yang lebih baik, lebih bijak.
Ketika kita di persimpangan jalan, seringkali kita lebih suka mengambil jalan yang mudah, tapi belum tentu akan mengantar kita pada tujuan yang kita inginkan. Aku belum tahu apakah keputusanku untuk mengambil jalan yang sulit akan berakhir bahagia, tapi harus meyakinkan diri. Aku percaya bahwa takdir terbentuk dari pilihan-pilihan yang kita ambil dalam hidup kita.
Setelah mencoba meredakan kecewa dan sakit hati serta keinginan untuk mencari penyebab dari semuanya, akhirnya aku tersadar bahwa kadang ada hal-hal yang memang tidak untuk kita mengerti. Kita hanya bisa menerima dan mencoba menjalaninya dengan ikhlas. Aku mencoba menyerahkannya pada kekuatan semesta untuk melakukan bagiannya. Yang bisa kulakukan saat ini adalah mencoba menerima dan tetap mempertahankan sebuah cinta yang telah sering teruji.
Memang semuanya tidak semudah kelihatannya. Butuh proses dan komitmen. Butuh keikhlasan. Aku akan berusaha menguatkan diri untuk menyadari bahwa kesalahan adalah bagian dari pembelajaran. Aku meyakini bahwa dia yang tercinta akan belajar dan memahami bahwa cinta kami adalah sebuah anugerah yang harus kami jaga dan rawat. Bahwa setiap tindakan akan mewujudkan sebuah akibat. Dan kali ini bisa jadi akibatnya adalah sebuah kehancuran sebuah cinta sederhana yang kami bina dengan segenap kesungguhan.
Ada ragu apakah ini keputusan yang terbaik? Apakah tidak akan terulang lagi? Apakah masalahnya telah terselesaikan? Kami tidak akan pernah tahu. Tapi aku harus yakin akan kesungguhan kami berdua. Bahwa kesalahan ini dibayar sangat mahal dan tidak akan menjadi yang kedua kali.
Pada akhirnya kita memang selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan. Ketika pilihan itu hanya menggunakan logika, mungkin tidak akan terlalu sulit. Tetapi ketika sebuah perasaan menjadi bagian terpenting dalam mengambil sebuah keputusan, itu bukanlah hal yang mudah. Tapi peristiwa ini menyadarkan aku bahwa aku masih sangat muda dalam hidup. Banyak sekali hal-hal yang tidak aku mengerti dan belum siap menghadapinya. Banyak sekali ujian-ujian lain yang akan datang dari berbagai sisi perjalananku di dunia ini.
Dengan peristiwa ini semoga aku semakin dewasa dan bijaksana dalam menyikapinya.
Lagu yang sama telah kuputar berulang-ulang dan masih terdengar... Manis dan indah... sederhana dan sarat makna... terima kasih Kang Ebiet.. terima kasih yang tercinta, terima kasih Tuhan...
Selama musim belum bergulir
Masih ada waktu saling membuka diri
sejauh batas pengertian
Pintu pun tersibak, cinta mengalir sebening embun
Kasih pun mulai deras mengalir
cemerlang sebening embun....
Cimanggis, 05 Jan 2011
Wednesday, January 13, 2010
Dalam Doa

Aku mencintainya Tuhan
karenanya aku membebaskan dirinya
Kubiarkan dia membubung
melewati batas langit tertinggi
Kubiarkan dia menyelam
Melewati batas lubuk terdalam
Aku mencintainya Tuhan
karenanya berikan aku kekuatan
untuk membebaskan diriku
dari segala rasa yang membakarku
Berikan kesabaran
untuk memberikan diriku kesempatan dicintai juga olehnya
Aku mencintainya Tuhan
Karenanya berikan kami waktu
untuk sama-sama menyadari arti diri
Berikan kami kejujuran
agar tak saling menyakiti
Berikan kami keikhlasan
agar tak saling mengikat hati
Aku mencintainya Tuhan
Karenanya berikan dia keberanian untuk menghadapi yang tanda Tanya
Berikan dia pemahaman bahwa malam akan menjadi indah bila bulan meneranginya
Bahwa mawar mempunyai duri yang melindunginya
Bahwa rumput liar mempunyai embun yang menyegarkannya
Bahwa ombak mempunyai pantai yang menyambutnya
Bahwa dibalik hitam ada putih yang menyempurnakannya
Tapi sesungguhnya, ya Tuhanku
Cinta adalah milik-Mu seorang
Maka aku bersimpuh dihadapan-Mu, memohon pada-Mu
untuk memberikan sepotong cinta
dan membagi belahannya Padaku dan Padanya
~suatu masa ketika cinta menyapa~

Puisi ini selalu kubaca pada hari kelahiranku. Tadinya kupikir puisi ini tentang seorang laki-laki yang pernah kucintai, tapi ternyata puisi ini adalah tentang "cinta". Cinta menurut versiku tentunya.
Hari ini kucapai angka 30 pada umurku. Wow! I kinda feel old... but what is age compare to life that we live?

Pastinya di tiap hari ulang tahun kita akan dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan, pilihan-pilihan ataupun janji2 yang telah kita buat baik pada diri kita sendiri maupun pada org lain. Aku sendiri sebelumnya selalu merasa resah ketika hari kelahiranku akan menjelang. Merasa masih berhutang pada diri sendiri karena ada hal-hal yang belum bisa tercapai ketika usia makin bertambah.
Kali ini semua agak sedikit berbeda. Mungkin karena sebagai manusia aku sudah sedikit naik kelas dari segi kematangan dan kedewasaan, semoga...
Kali ini ku merasa lebih tenang dan santai. Tidak ada rasa seperti diburu atau keresahan karena kegagalan2 yang kualami.


Hari kelahiran yang kulewati dengan sederhana. Dimulai dengan telepon dari yang tersayang tepat saat jam bergeser dari pukul 12 malam tadi. Ucapan selamat dengan disertai doa sederhana, semoga ku tetap sehat & bahagia, serta kita tetap bisa sama-sama pada masa-masa yg akan datang... Tak lupa akupun mengirimkan doa pada sang Pencipta untuk apa-apa yang kuharapkan.
Pagi-paginya kubuka Facebook yang sudah berisi banyak sekali ucapan selamat dari teman-temanku. Memang efektif sekali site ini utk mempraktiskan banyak hal. Terharu... lalu datang telpon dari salah satu karibku, Dway, mengucapkan selamat yg diteruskan dengan obrolan panjang... haha... selalu begitu kalo sama dia memang.
Diakhiri dengan janji dia akan mengunjungiku ke Bogor...
Maka selesai sudah ceremony hari lahirku yang ke 30 ini.
Rasa syukurku untuk semua hal yang telah dilimpahkan pada diriku. Keluarga yang sehat dan selalu dalam lindungan-Nya, teman-teman yang peduli dan menyayangiku, seorang kekasih yang sangat mencintaiku... Dengan itu semua, aku bisa katakan bahwa hidupku pada dasarnya bahagia. Semoga ku bisa menikmati kebahagiaan ini. Amin...
~photo 1: me & mike @ Ngliyep beach
~photo 2: me panning left (photo by: Mba Dian-Malang)
~photo 3: me, Nita, Hera, Awin @ Langkawi-MY
~photo 4: me & tita @Train in KL-MY
~photo 5: me & 1001buku friends @Kebalen
Tuesday, December 29, 2009
“There are memories & there are places
There are warms feeling & there are people
But, sometimes in life…
We come by something that has all of these in one
Something that makes us feel good
Something we always want to come back to
Something we can call “Paradiso”
Tahun ini adalah tahun yang begitu berarti buatku. Bukannya ingin melemahkan arti tahun2 lainnya.
Di Tahun ini genap setahun aku merajut harapan bersama seorang laki-laki yang begitu sempurna untukku. Sempurna bukan berarti tanpa hambatan dan tantangan. Hubungan yang dibangun dari kesadaran diri akan kekurangan dan kekaguman akan satu sama lain. Hubungan yang dimulai dari langkah pertama dan terus berlanjut ke langkah-langkah berikut yang begitu sarat makna. Walaupun perjalanan kami belum sampai pada tujuan, tapi kami menikmati tiap-tiap detiknya.
Tahun ini juga merupakan tahun yang cukup berat dalam pekerjaanku. Pekerjaan yang cukup kusukai sebetulnya. Tapi, ketika semua harus berbenturan dengan system yang belum tertata, organisasi yang kurang baik komunikasinya dan hal-hal lain yang tidak dapat aku toleransi lagi. Hal ini cukup membuat syaraf-syaraf otak dan ketenangan jiwa yang sangat kuinginkan terjaga menjadi sangat terganggu. Kalau orang bilang “bikin stress”.
Ketika himpitan pekerjaan ini membuatku ingin meledak, aku mengirimkan sms ke seorang kerabat di Malang yang berisi keinginanku untuk mendapatkan masa menenangkan diri. Aku mendapatkan sms jawaban yang berbunyi,
“Sudah, ga usah pake mikir, berangkat aja sekarang, ga usahmikir akomodasi selama di Malang.”
Ada rasa haru dalam dada, menyadari bahwa masih ada kerabat yang peduli dan memahami kesusahanku. Kuakui bahwa selama aku bekerja di Bogor aku memang sangat jarang aktif dalam komunitas yang selama ini memang menjadi salah satu balance dalam keseharianku. Terjerat dalam rutinitas yang cukup intens baik secara fisik maupun mental membuatku kelelahan. Aku menyadari terjadi perubahan dalam diriku yang bagiku sangat tidak baik.
Setelah mengabarkan ke sayangku yang tengah liputan di timur Kalimantan, akupun mulai mencari tiket. Inginnya masih dapat tiket pesawat, tetapi ternyata sudah habis. Aku cek Gajayana tiketnya melambung ke angka 370rb, mungkin karena long weekend. Hampir saja rencanaku gagal, kalau tidak karena kawan yang secara tidak sengaja kontak bersedia menemaniku naik kereta ekonomi Matar Maja.
Maka meluncurlah kami ke Malang ari stasiun Senen pukul 14.00 dengan sarana angkutan rakyat. Sebetulnya angkutan kereta ini bisa dibilang cukup untuk kami yang terbiasa backpacking dan menempatkan kenyamanan di nomer sekian dalam perjalanan yg kami lakukan. Mendapatkan gerbong paling belakang menyatu dengan penumpang-penumpang lain yg kebanyakan adalah pekerja kasar di Jakarta. Pastinya bisa dibayangkan bagaimana mereka memperlakukan kereta murah meriah ini (harga karcisnya Rp.51.000,-). Mereka makan, merokok, tidur, pokonya semuanya bisa dilakukan dengan merdeka di dalam gerbong kereta. Belum lagi pedagang asongan yang lalu lalang menjajakan jualannya dari makanan kecil, kopi, pop mie, sampai ke kipas, penganan utk oleh2, pipa rokok, pokoknya komplit deh.
Pengennya sih bisa istirahat selama perjalanan, tapi dengan begitu banyak gangguan, maka Cuma tidur-tidur ayam yg bisa kulakukan. Berbeda dengan teman seperjalananku yang memang cukup bisa membiasakan diri untuk tidur dimanapun dan dalam kondisi apapun. Saya cukup iri melihat dia dapat tidur dengan enaknya.
Dua hari liburan di Malang kami isi dengan ngopi, ngobrol-ngobrol ringan, bertemu kawan-kawan, menikmati sunrise di Bromo, ngopi sambil kongkow lagi. Memang inilah yang kuharapkan untuk liburan kali ini. A real getaway dari segala kelelahan yang kurasakan. Kami sangat menikmati liburan yang begitu santai dan tidak ter-jadwal ini. Yang terpenting adalah menghabiskan waktu bersama kerabat sambil menikmati suasana Malang yang tenang dan pemandangan alam Bromo yang sedang hijau-hijaunya.
Kembali ke Jakarta-bogor aku merasakan cukup fresh dan sepertinya siap untuk menghadapi rutinitas ku kembali. Tapi ternyata setelah kembali ke kantor segala ketidak nyamanan itu kembali menyergapku. Apakah memang sudah waktunya aku untuk mengembangkan sayapku dan terbang ke tempat lain?
Thursday, August 13, 2009
Rendra: Going against the tide

By: Anand Khrishna, Jakarta Post Aug.8, 2009
My first and last meeting with W.S Rendra took place not long after The Jakarta Post carried an exclusive interview on the great poet on Nov. 12, 2005. I was then invited by a friend to talk about national integration and Pancasila the state ideology.
Rendra was seated with others in the audience; an d listened to me attentively. After I finished my talk our host introduced us. Rendra was very informal, “Bung” meaning “brother”, “you are going against the tide. Nobody cares about Pancasila anymore. What can you do?”
I said, “I learnt the art (of going against the norm) from you.”
He remained silent for a while, and then nodded, “Yes, yes, yes, we have to go on. Don’t we?”
We discussed many things, and I could feel his restlessness. At the same time, he was also surprisingly hopeful. What a man! He was a perfect blend of tragic poet and dynamic activist, restless and yet hopeful.
I was truly impressed.
Here was a man who dared to go against the tide. He lived life on his own terms. He was not ashamed of his lust and passion, at the same time he did not stop at that. He was clearly trying to transcend them.
“When I hear people talking about my possessions, I tell them that I am but only a trustee.”
In the next few lines, he lists out all his possessions, the movable and the immovable.
“But, why have I been entrusted with all these things? Why di I grieve when something that has been entrusted to me is taken back by the rightful owner?”
Rendra, who was born a Christian in Surakarta (Central Java), on Nov.7, 1935, died a Muslim in Depok (West Java), on Aug.6, 2009. He lived to ne as human as possible.
When I heard about his death from a friend, I sighed, “One more loss.”
Two days earlier, we had lost Mbah Surip, another great artist and a humble man, a down- to- earth person.
Alas, Mbah Surip and now Mas Rendra. But, then I remembered the poet’s lines.
“Why di I grieve when something that has been entrusted to me is taken back by the rightful owner?”
I can almost hear Mas Rendra reciting the next lines in that verse. “Why di I consider it a calamity? Why do I call it test?”
Rendra was a poet, a genius at that, but more than a poet, he was a man of integrity. He was a man of courage.
Rendra complained about our system of government, which he believed was a continuation of the Dutch colonial system. “Through poems I criticize development that does not benefit the people and that ignores social and cultural issues.
“It is normal for a colonial ruler to ignore those aspects, but after independence we have to work on the social and cultural aspects.”
One of Rendra’s core beliefs was that when a nation forgets its social and cultural values, moral decadence cannot be avoided.
“I mustr enlighten the people. Anytime there is moral decadence, poets have to react.”
“If there is natural devastation, poets have to react. If there is failure in the government, many poets say that it is not their business. I do not agree.”
Here it is not Rendra the poet speaking, but Rendra the activist.
During President Soeharto’s governance, Rendra was often threatening and detained for expressing his thoughts on the government through his poems and dramas. Undeterred, he continued promoting his beliefs through his work, despite that hardship.
When Rendra was asked about his support for Nurmahmudi, the Major of depok and a member of the prosperous Justice Party (PKS), he said:
“ [I] support Nurmahmudi not because I am a member of PKS. It is impossible for me to join PKS. For me, PKS is a party with an unclear platform.”
PKS was not the only political party targeted by Rendra, who constantly lamented that not a single party had reacted to an increase in politicians’ salaries when the majority of Indonesians live below the poverty line.
Nurmahmudi was notorious for canceling a building permit for a church that was be built in Depok. I am not sure whether Rendra ever raised this issue with the Depok Mayor.
Rendra was very much concerned about the rights of minority groups.
“There was a Christian family who was expelled from their house for organizing a prayer (meeting). I often organize prayers at home peacefully. Does it mean that a Muslim is allowed to organize a prayer and others are not allowed?”
Mas Rendra, soon we will be celebrating our national day, albeit without you, and without Mbah Surip this year. We will miss you. But as we hoist the national flag, we shall remember your words.
“There is a hope. It is not because of the quality of the government or the political parties. It is because the young generations have started to understand social knowledge, psychology, linguistics and anthropology. There is hope.”
Monday, July 13, 2009
We shall never forget, to change our way... ( Sempu Story)

I'm Gonna Make A Change, For Once In My Life
It's Gonna Feel Real Good, Gonna Make A Difference
Gonna Make It Right . . .
I'm Starting With The Man In The Mirror
I'm Asking Him To Change His Ways
And No Message Could Have Been Any Clearer
If You Wanna Make The World A Better Place
Take A Look At Yourself, And Then Make A Change
(Lyric taken from : Michael Jackson “Man in the Mirror”)
Lets go To the beach…
Ini mungkin tema paling cocok untuk saya dalam beberapa bulan terakhir ini. Dimana tempat main saya berubah dari gunung ke pantai. Setelah bermesraan dengan Ujung Kulon saya diberi kesempatan untuk bercengkrama dengan indahnya Pulau Sempu yang disebut2 sebagai The beach-nya Indonesia. Mau Gunung, pantai, atau apapun saya akan sangat menikmati setiap perjalanan saya baik yang menyenangkan ataupun tidak.
Di dalam perjalanan yang saya lakukan saya selalu mencoba menemukan sesuatu yang baru baik dari diri saya, teman seperjalanan saya maupun dari tempat-tempat serta orang-orang yang saya temui. Semuanya adalah bagian dari perjalanan itu sendiri.
Kali ini saya dan teman-teman berkesempatan mengunjungi Cagar alam Pulau Sempu yang terletak di Kabupaten Malang bagian selatan. Saya, 2 orang teman saya dari Komunitas 1001buku, 1 orang teman SMA, dan 1 orang adik teman SMA saya yang menggantikan kakaknya berangkat naik Batavia Air sekitar jam 12 siang (terlambat 1 jam dari jadwal) dari Bandara Cengkareng. Tim cewek-cewek gagah jelita ini ditambah tim guide dari Malang yaitu mas Andi (pengelola Baung Camp di Purwodadi), mas Sigit (Bp. Guru di Malang yg juga penggiat kegiatan alam terbuka) berangkat dari Malang sekitar pukul 2 siang. Kita langsung menuju Sendang Biru yang merupakan pintu masuk ke Cagar Alam Pulau Sempu. Setelah melakukan registrasi dan melepas lelah serta melakukan kewajiban2 lainnya kami berangkat sehabis maghrib dengan menggunakan perahu nelayan. Karena keadaan sekekliling yang sudah gelap gulita, kami hanya bisa menikmati lampu2 di bagan & perahu nelayan serta bintang2 di langit malam. Perjalanan sekitar 15-20 menit dan kami sudah merapat di Pulau Sempu. Keadaan pantai sedang surut sehingga kami haru berjalan pelan-pelan menyusuri pantai memasuki hutan menuju Danau Segara Anakan tempat kami akan kemping malam ini.
Perjalanan cukup melelahkan karena dilakukan di waktu malam, tapi kami tetap melaluinya dengan hati yang riang. Untungnya teman- teman perjalanan kali ini sangat positif dan menyenangkan sehingga trekking selama hampir tiga jam bisa dilalui dengan baik. Memang sempat terjadi kejadian-kejadian yang cukup menghambat, tetapi kami semua dapat mengatasinya dengan tetap positif dan niat yang baik.
Malam itu kita lewati dengan memasang tenda, makan malam dan mengistirahatkan tubuh yang cukup lelah. Kami juga disuguhi dengan pemandangan langit yang penuh bintang yang sudah tidak bisa dinikmati di Jakarta.
Paginya, barulah kita bisa melihat keindahan segara anakan. Ini betul-betul another “piece of paradise” yang pernah ku kunjungi. Pantai pasir putih dengan kejernihan airnya yang kehijauan terlindung dari kegananasan ombak pantai selatan oleh dinding karang yang memutarinya. Airnya berasal dari karang bolong yang tak henti-hentinya menghempaskan air ke dalam danau segara anakan. Makin siang air makin pasang dan Danau Segara Anakan makin indah untuk dinikmati. Saya dan teman-teman pun tak segan menikmati semua keindahan ini sepuasnya.
Namun, ada yang membuat saya dan teman-teman sangat sedih. Danau segara anakan memiliki lahan camping yang tidak begitu besar. Hanya cukup menampung sekitar 6-10 tenda berukuran sedang. Tapi, karena akses yang sangat mudah berakibat sulitnya mengontrol keluar masuknya pengunjung disana. Dan juga kurangnya sosialisasi Pulau sempu sebagai Cagar Alam membuat pengunjung yang datang memperlakukan Pulau sempu sebagai tempat wisata biasa, bukan berarti kita bisa seenaknya di tempat-tempat wisata. Yah, semua memang kembali kepada pribadi manusianya masing-masing.
Hal-hal yang patut disayangkan saya temukan disana, seperti; timbunan sampah bekas pengunjung yang menyebabkan (perkiraan saya) berkembang biaknya sejenis serangga seperti anak kecoa kecil2 dan menjijikkan. Serangga seperti ini tidak pernah saya temukan di pantai-pantai yang relative bersih. Penuhnya pengunjung yang datang pada satu waktu membuat tidak nyaman dan kurang bisa menikmati alam dengan lebih tenang. Walaupun ada batas quota 20 orang tiap sekali kunjungan tetapi rupanya pada kenyataannya hal ini tidak dapat terealisasi.
Saya mengajak semua para penikmat alam untuk lebih peduli dan memperhatikan kesinambungan alam kita. Kita mungkin masih cukup beruntung bisa menikmatinya saat ini, tetapi akan sampai kapan keasrian dan keindahan alam kita akan bertahan? Kalau kita tidak mau peduli.
Seperti bait lagu yang dibawakan oleh King of Pop kita yang berjudul “man in the mirror” diatas….
Kita lah yang harus bertindak dan harus sekarang!!!
Sunday, July 12, 2009
Dangerously Beautiful Ujung Kulon by Fishing


Pada tanggal 29-31 Mei & 5-7 Juni, saya mendapat keberuntungan untuk mengunjungi salah satu suaka margasatwa di Pulau Jawa yang juga merupakan salah satu World Heritage. Perjalanan yang pertama saya diajak oleh MK Fishing Tour yang dimotori oleh Om Gino 7 mas Anto. Mereka adalah para pemancing yang memiliki obsesi di masa pensiunnya memilih untuk mancing dan mancing dan mancing, hehehehe... oleh karena itu mereka telah merintis dan membesarkan usaha sebagai operator wisata mancing yang masih sangat jarang di Indonesia.
It was my first time visiting Ujung Kulon and also my first to go Fishing, especially sport fishing. My fishing experience only happen in my childhood fishing small mujaer at small river at my mom's hometown.
We arrive at Sumur (last village at Ujung Kulon) by dawn and refresh ourselves while the crew loading all stuff and equipment to the boat that will take us enjoy Ujung Kulon for two days and one night. At six in the morning we all aboard the boat and headed to the sea with the morning breeze and the sunrise. We go fishing directly along the way to Pulau Peucang as we will spend the night there. We go to Tj. Senini, Tj. Layar, Karang Copong, etc to do Popping (one of the sport fishing technic). This sport fishing things was new for me, though my boyfriend already give me a bundance story and photo and video about this, but actually doing it was my first. And after awhile I actually enjoy it. It was nothing like fishing I’ve known before. It's a sport alright because you have to throw the rod and reel over & over and it was quite heavy and I have to train my selves over and over to do it right.
They also introduce me with Catch & Release in the world of Fishing. The idea was to release the fish after we catch it. It's related to have a sustainable Fishing Tourism and to protect the fish from over fishing. I definitely like the idea, as I also not really like to have this 50cm length fish on my dish. It's just not my kind of cuisine.
After having lunch on board with ABK cooking meals that really taste Delicious. It's not just because the scenery and the place and the fact that I was starving. The meals is really was delicious. Two thumbs up for the cook (this actually becoming an issue for me, as my boyfriend give the credit for the cook more than he give for me, hahaha...), well, that's fine as I'm not much of a cook my selves). Well, after having lunch we docking by noon at Peucang Island to have the night rest. Our bodies were aching after having so much throwing at Popping but our hearts were content. We can't wait the morning to give our best at all the GT (giant trevally fish) at Ujung Kulon.
The first journey at the end of May was MK internal Fishing Training. It was more personal and I really enjoy the whole trip. I also have the chance to visit Kr. Jajar, the favorite spot to do Popping. The wave is high enough for me. I barely could stand on my feet. The funny part is all my friends are calmly doing popping as I try my best just to stand on my feet. It was iritating for me... But, the view is spectacular as I saw line of magnificent rocks along the strait. It has hypnotic effect for me.
The Second trip was My company trip with few clients. It was a bit crowded but still enjoyable for me.
Ujung kulon adalah salah satu tempat yang sudah lama ingin aku datangi, tetapi masih belum mendapatkan kesempatan. Ketika kesempatan itu datang tidak hanya sekali tapi langsung 2 kali berturut-turut. Wow!! Betapa beruntungnya aku.
Ujung Kulon bukan hanya tempat untuk Wisata Mancing tetapi sebetulnya dia sudah sangat dikenal untuk Wisata ekologi nya dimana disinilah tempat Badak yang paling dilindungi di dunia yaitu Badak Bercula satu berada. Kita bisa trekking, swimming, snorkling, diving dan aktivitas lainnya yang dapat kita lakukan. Aku tidak habis-habisnya mengucapkan syukur bahwa Ujung Kulon masih bisa bertahan dan terawat relatif baik dibanding tempat-tempat wisata alam lainnya yang banyak sekali tidak bis abertahan karena ketidak pedulian manusia.
Saya mendengar bahwa ikan di perairan Ujung Kulon tidak lagi sebanyak 5-10 tahun yang lalu. Semoga menjadi tanggung jawab kita semua untuk tetap menjaganya. Karena saya dan pasti kita semua ingin agar anak cucu kita masih dapat menikmatinya seperti kita. It was definitely dangerously beautiful Ujung kulon, a piece of paradise at the western end of Java.
for detail info, check this link: www.mkfishintour.com
Saturday, July 11, 2009
Between politics, faith and sex by Anand Krishna
*Anand Krishna* , Jakarta post | Tue, 05/19/2009 10:00 AM | Opinion
While reading Friday’s Jakarta Post, a visiting friend remarked we were “a
funny” country. Perhaps he was trying to use a milder term for something
else. His remark came after reading an item concerning Prosperous Justice
Party (PKS) chairperson Tifatul Sembiring’s views on Bank of Indonesia’s
Governor, Boediono, as the running mate of Susilo Bambang Yudhoyono for his
next term in the office as president.
The second piece of news was about another equally “funny” article about the
requirement for a female presidential candidate to avoid having sex for ten
days.
Tifatul Sembiring is not very comfortable with Governor Boediono’s faith and
says, as quoted by this paper, “Boediono has never been seen speaking to
Muslim masses.”
So, although he regularly attends Friday prayers in the mosque, he is still
considered that not sufficiently Muslim”.
What is more “funny” is that according to Sembiring’s statement, his
constituents see Boediono as a nationalist, which is not a proper
representation of Islam.
The question is; what then is the proper representation of Islam? Another
more important question is; can Muslims be not nationalists at the same
time?
What equally bothers me is whether the Christians, or Hindus, or Buddhists
have any chance to be a vice president of this country. Where is this
country leading to?
The former president of Prosperous Justice Party, Hidayat Nurwahid, who now
chairs the People’s Consultative Assembly (MPR), made a statement awhile
ago that he had received several SMSs saying that he was against national
unity (NKRI) and the national ideology based on the principle of Bhinneka
Tunggal Ika (Unity in Diversity).
Hidayat denied all these allegations. It is now high time that he makes it
clear what is his
understanding of Unity in Diversity in view of his party’s high commands
statement.
Hidayat also refused to be associated with Saudi wahabis, who according to
him were against political parties. What about the ideology of wahabis,
which places uniformity above Unity in Diversity?
Of much interest is also the reason the Depok regent decided to close down a
church, and to deny them a building permit. Interestingly, this regent
belongs to Hidayat’s party. It would be interesting to hear Hidayat to speak
on this subject.
There was another piece of news related to the sexual activities of female
presidential candidates; perhaps the Indonesian Doctors Association (IDI)
chairman, Fachmi Idris, has conducted extensive research on this subject.
What he forgot to disclose was a more understandable reason behind this.
To quote the Post on this subject, “the requirement for a female candidate
to avoid having sex is
to prevent the outcome of her medical check up from showing ‘biased’
results.”
What is not mentioned is whether the so-called “biased” results are only
related to females alone, or also to the males?
The latest findings in the field of medicine have indicated that as women
have their menstruation, men also experience a similar cycle with different
symptoms. As women have menopause, men too have andropause.
Indeed, women can have xx chromosomes, men cannot have yy. Men inherit the
xx chromosomes from their mothers. We are not discussing the issue of the
superiority of men over women or vice versa. But let us talk of some
sensibilities.
In this region of the world, we have never tabooed sex. We have made
intensive studies about sexual energies. The ruins of our campuses at Sukuh
and Cetoh at Central Java are proof of this.
Sexual energy when not channeled for higher purposes to make one more
creative and innovative, will only try to find its release through
intercourse and masturbation. By the way, the passion to hold on to a
position or to fight for a position at any cost – are also prompted by
unchannelled or rather mischannelled sexual energy.
I have many questions in my mind; my friends from overseas have many
questions in their mind. What about you? The readers of The Jakarta Post. If
we do not start questioning today, then tomorrow it may be too late.
*
The writer is a spiritual activist and the author of more than 120 books.*
Saturday, May 23, 2009
Cerita Sebatang Pensil

Seorang anak laki-laki tengah memperhatikan neneknya menulis pada sebuah kertas. Tak lama, Dia bertanya:
“Apakah nenek menulis cerita tentang apa yg telah kita lakukan? Apakah itu cerita tantang aku?”
Neneknya berhenti menulis dan berkata pada cucunya:
“Sebenarnya nenek menulis cerita tentang kamu, tetapi yang jauh lebih penting daripada kata2 yg aku tulis adalah pensil yang kugunakan. Nenek harap kamu akan menjadi seperti pensil ini selama masa pertumbuhanmu.”
Terkesan, sang cucu memperhatikan dengan seksama pensil tersebut. Tidak terlihat ada yg istimewa.
“Tapi, pensil ini sama seperti pensil lainnya!”
“Itu tergantung dari bagaimana cara kamu memandangnya. Pensil ini mempunyai lima kualitas yang apabila kamu berhasil mengikutinya akan membuat kamu seorang yang selalu tenang dalam menghadapi hidupmu.”
“Kualitas kesatu: Kamu mampu melakukan hal-hal yang luar biasa, tapi kamu tidak boleh lupa bahwa akan selalu ada tangan yang memandu jalanmu. Kita menyebutnya tangan Tuhan, dan Dia selalu memandu kita sesuai dengan keinginan-Nya.”
Kualitas kedua: Ada masa masa dimana aku harus berhenti menulis dan menajamkannya dengan rautan. Hal ini akan membuat pensil ini menderita sedikit, tetapi setelahnya, dia akan makin tajam. Begitu juga kamu harus bisa menahan sakit dan penderitaan, karena akan membuatmu menjadi manusia yang lebih baik.”
“Kualitas ketiga: Pensil ini akan selalu membiarkan kita untuk menggunakan penghapus apabila ada salah tulis. Ini berarti bahwa memperbaiki kesalahan2 kita bukanlah hal yang jelek; Itu akan membawa kita kejalan kebenaran.”
“Kualitas keempat: yang benar2 penting dari sebuah pensil bukanlah kayu yg membungkusnya, tapi batang granit didalamnya. Maka, selalu perhatikan apa yang terjadi di dalam dirimu.”
“Terakhir, kualitas terakhir dari pensil ini: Pensil selalu meninggalkan coretan. Sama halnya, kamu harus memahami bahwa segala hal yang kau lakukan di dalam hidupmu akan meninggalkan bekas, maka cobalah untuk selalu menyadarinya dalam setiap tindakanmu.”
~dikutip dan diterjemahkan sendiri dari buku Paulo Coelho "Like the Flowing River"~
SOME FINAL PRAYER

DHAMMAPADA (PERSEMBAHAN UNTUK SANG BUDHA)
Akan lebih baik, daripada ribuan kata-kata,
Hanya ada satu, kata yang membawa perdamaian
Akan lebih bai, daripada ribuan puisi,
Hanya ada satu, puisi yang mengungkapkan kecantikan sejati
Akan lebih baik, daripada ribuan lagu
Hanya ada satu, lagu yang membawa kebahagiaan
MEVALAN JELALUDDIN RUMI (ABAD 13)
Diluar sana, diantara benar dan salah, terdapat lapangan yang sangat luas
Kita akan bertemu satu sama lain disana.
NABI MUHAMMAD (ABAD KE 7)
Ya Allah, Aku kembali padamu karena kau adalah Sang Maha Mengetahui, bahkan untuk hal yang tersembunyi.
Jika yang aku lakukan membawa kebaikan kepada diriku, agamaku, hidupku sekarang dan di akhirat nanti, maka berikan kemudahan dan ridha-Mu
Jika yang aku lakukan membawa keburukan kepada diriku, agamaku, hidupku sekarang dan di akhirat nanti, hentikan aku dari tindakanku.
YESUS DARI NAZARETH (MATHEW 7:7-8)
Mintalah, dan akan diberikan kepadamu; carilah, dan kau akan temukan; ketuklah, dan akan dibukakan untukmu. Untuk siapa saja yang meminta akan menerima, dan dia yang mencari akan menemukan, dan bagi dia yang mengetuk akan dibukakan.
DOA YAHUDI UNTUK PERDAMAIAN
Mari, kita daki Gunung Yang Mulia supaya kita berjalan di Jalan-Nya. Dan kita ganti pedang kita dengan cangkul dan tombak kita dengan arit.
Negara seharusnya tidak saling mengangkat senjata, mereka juga tidak perlu belajar tentang perang lagi.
Dan tidak ada seorangpun yang perlu takut, karena Yang Mulia telah berkata.
LAO TZU, CHINA (ABAD KE-6)
Jika ingin tercipta perdamaian di dunia, Negara harus hidup dalam damai.
Jika ingin tercipta perdamaian di dalam Negara, kota-kota tidak boleh saling menyerang.
Jika ingin tercipta perdamaian di dalam Kota, para tetangga harus memupuk saling pengertian.
Jika ingin tercipta perdamaian di antara tetangga, harus ditanamkan harmony di dalam rumah
Jika ingin tercipta perdamaian di dalam rumah, kita harus menemukannya terlebih dahulu di hati kita masing-masing
~dikutip dan diterjemahkan sendiri dari buku Paulo Coelho "Like the Flowing River"~
Saturday, January 24, 2009

Kangennn.....
Kata itu sekarang ini sering sekali terucap dari mulutku, tertulis tanganku, terketik di laptopku.
Akh!! Kalau "rasa" itu sudah mulai memasukkan virusnya ke dalam otak dan hati kita, memang kita akan dibuat tidak berdaya. Ketika "cinta" menyapaku entah untuk yang keberapa kali, ku sempat menepisnya, "akh! ngapain sih lo, bikin ribet aja!". Saat itu sebenarnya aku sedang "in relationship" yang berstatus "mission impossible", tapi "what the hell" lah!! yang penting aku bisa sibuk dan bisa melampiaskan bakat sayang-menyayangku.
Tapi, seperti sebelumnya, si "cinta" kali ini juga menang terhadap logika yang kumiliki. Tapi, apakah perlu logika dalam urusan hati?? Sudah jelas-jelas logika itu urusannya otak kita yang sudah jelas2 juga sangat sedikit terpakai oleh kita fungsinya.
Jadi, jangan salahin hati kalo ternyata dia berada di atas angin dalam hal ini.
Ada yang menarik berkaitan dengan perasaan kangen yang mulai meracuni akal pikiranku ini. Yang paling kusukai adalah aku jadi punya keinginan untuk menulis lagi. Yang entah berapa lama sudah tidak kulakukan. Bahkan, aku sudah hampir setahun tidak mengisi jurnal yang telah menjadi bagian hidupku dari aku SMP.
Kata ini sangat ajaib bagiku saat ini, karena kata itulah yang menjadi pembuka bagi "rasa", "kata", "tindakan" yang mengikuti selanjutnya. Hanya karena sebuah kalimat, "Kok, aku jadi kangen sama kamu yah...", bendungan "rasa" jebol dan masuklah air bah menghanyutkan segala yang berada di depannya.
Akupun hanyut, saat ini terasa seperti mengambang dan sedikit shock. aku tahu di depan sana aku pasti akan terantuk batu, tersangkut akar pohon, tergulung ombak dan mungkin akan terhempas dengan badan remuk dan hati retak. Tapi, masih ada juga sebuah asa yang menelusup dan mengusap2 hatiku bahwa mungkin saja disaat aku terhanyut akan ada sebuah perahu yang datang mengangkatku, mengeringkan badanku dan memberikan kehangatan sehingga aku bisa kembali pulih.
Wednesday, September 24, 2008






The small estate village of Edensor, pronounced ‘Ensor’, is set in one of the most beautiful locations in the country in parkland owned by the Devonshire family, whose stately home at Chatsworth House is only five minutes walk away. Mentioned in the Domesday Book, the village has been re-sited since then. Originally it lay between the river and the road through the Park, when the houses were set out in a straggling line down to the Derwent.
This did not appeal to the fourth Duke of Devonshire who having spent considerable money and effort improving the House, redesigning the gardens and building a grand new bridge over the river, decided to take down those houses visible from the House. The tenants were re-housed in the nearby estate villages of Pilsley and Beeley. The sixth Duke completed the dismantling of the old village and built the present one.
One house and garden on the riverside of the road, surrounded by a stone wall, still remains. Spared it is believed, because the tenant, an elderly man, did not want to move and the duke in an act of kindness allowed him to stay. Under the brow of the hill it was not visible from the House.
Joseph Paxton, who remodelled and landscaped the gardens at Chatsworth, chose the site for the new village, but it was John Robertson a relatively unknown architect from Derby who provided the designs. At that time aspiring young architects such as Robertson would prepare a book of house plans as part of their training.
It is thought that Robertson approached the Duke to show him the plans when he was busy with other matters and that after quickly looking through them he could not make up his mind and chose all the different styles in the book. The designs ranging from Norman to Jacobean, Swiss-style to Italian villas are all here at Edensor. A few of the old houses remained virtually untouched including parts of the old vicarage, two cottages overlooking the green and the old farmhouse which now houses the post office, shop and tea rooms.
Robertson retained the 14th century church, but only about 30 years after the completion of the model village it was replaced by a much larger one built by George Gilbert Scott. The new church with its graceful spire and spacious layout added to the status and importance of the village. A more recent addition that helps make the village more complete is the green, added in 1948 after the demolition of the school.
St Peter’s Church contains one of the finest monuments in the county. This commemorates Henry and William Cavendish, the sons of Bess of Hardwick, the latter son being the First Earl. In the chancel is a brass plaque which records the death of John Beaton, the loyal servant of Mary, Queen of Scots who was imprisoned at Chatsworth House during part of her period in captivity. Also in the church, in a glass case is a wreath of everlasting flowers sent by Queen Victoria to the funeral of Lord Frederick Cavendish, tragically killed in Ireland while on a peace mission. Joseph Paxton is buried in the churchyard in a grave of much grander scale than that of his master, the sixth Duke.
At the top of the churchyard is the grave of Kathleen Kennedy, the sister of the late President of the USA. She was the wife of the present Duke’s elder brother and heir to the Dukedom who was tragically killed in Belgium during the last war. Only four years later his wife was killed in an air crash.
In June, 1963, John F Kennedy, the President of the United States visited the grave -- five months before being assassinated – on the way by helicopter to a meeting with the Prime Minister. This event is recalled by the Duchess of Devonshire in her book, ‘The House: a Portrait of Chatsworth’, when she describes the reaction of one resident of the village, ‘The wind from that machine blew my chickens away, and I haven’t seen them since’.
The architect, Sir Jeffery Wyatville was employed in designing the two gate lodges; one an Italianate villa, the other in complete contrast an English Lodge to mark the entrance to the park. Through the park gates on the right the lane in the village forks; Edensor Lane bearing right and Japp lane to the left. The old coach house and stables have been converted into comfortable flats for retired employees.
Edensor House, occupied for a time by the present Duke and Duchess, has been used to entertain royalty. Outside the park gates the handsome brick building was formerly an inn to serve travellers; villagers had to be content with a makeshift alehouse in one of the cottages. This inn later became Chatsworth Institute and is now occupied by Chatsworth Estate Offices in front is a bowling green and to the side a golf course. The old alehouse cottage still exists, as do the iron staples from where the inn sign hung.
Wednesday, January 23, 2008
dua lapan
Besok I'll be 28... so what??
Well, gw pernah planning pada angka 28 ini gw sudah memiliki toko buku. Gw udah punya novel best seller, hahaha... dan yang pasti gw pengennya pada umur segini sudah menikah... pengennya...
Tapi, biasalah... si nasib neh senengnya kan bikin orang kecele. Dan gw dah berkali-kali dibikin kecele, hehehe... mang aja gw nya yang seringnya rada bloon dalam menyikapi hidup, but, aren't we all?? hehehe...
Sekarang, seperti tahun2 sebelumnya, yang bisa gw lakukan adalah banyak2 bersyukur atas rahmat yang sudah diberikan Yang Maha Kuasa buat gw, bersyukur karena gw masih dicintai oleh2 orang2 disekitar gw, bersykur gw masih dikasih sehat utk selalu beribadah kepada-Nya.
Gw juga tetap berharap akan ada yang kasih gw berlian sebelum gw menjelang 29, hahaha... tetep optimis lahh... gw yakin kok dia akhirnya akan sadar kalo ga rugi ngasih gw berlian...insyaAllah
Gw berharap di angka 28 ini gw akan tetep dikasih hal-hal baik dalam hidup gw, tetep dikasih kepala yang dingin dalam menyikapi sesuatu, diberikan kecerdasan dalam menyikapi laki2 yang datang dalam hidup gw, diberikan keteguhan dalam memegang prinsip hidup, diberikan kemudahan dalam emncari sesuap nasi dan segenggam berlian, dan yang pasti selalu diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk menyebar kebaikan dalam dunia-Nya, amin
Depok, 13 Jan 08